KOTIM, MEDIASUARAKALTENG.ID – Hutan rawa gambut merupakan salah satu ekosistem penting di Indonesia. Ekosistem ini berperan besar dalam menjaga keseimbangan lingkungan, antara lain sebagai penyimpan karbon alami, pengatur tata air, serta habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa ekosistem gambut memiliki fungsi penting dalam pengendalian iklim dan pencegahan bencana lingkungan. Namun, dalam beberapa puluh tahun terakhir, hutan rawa gambut mengalami tekanan yang cukup berat akibat kebakaran hutan dan lahan, pembukaan kawasan, serta perubahan pengelolaan air.
Badan Restorasi Gambut (BRG) menjelaskan bahwa pengeringan gambut melalui kanal drainase menyebabkan gambut menjadi mudah terbakar dan mengalami kerusakan. Kondisi ini berdampak pada menurunnya fungsi alami gambut, baik sebagai penyimpan air maupun penyerap karbon.
Kerusakan hutan rawa gambut yang terjadi secara berulang telah memunculkan kawasan yang dikenal sebagai areal terdegradasi. Areal ini umumnya terbagi ke dalam dua kategori, yaitu degradasi ringan dan degradasi berat, yang banyak dijumpai pada kawasan bekas kebakaran hutan dan lahan serta aktivitas pemalakan liar.
Meski mengalami kerusakan, kawasan terdegradasi tersebut masih memiliki peluang untuk dipulihkan melalui upaya rehabilitasi yang tepat dan berkelanjutan, salah satunya dengan menanam jenis-jenis pohon asli hutan rawa gambut.
Kepala Seksi Persemaian PT.Rimba Makmur Utama (RMU), Irmanto, mengatakan salah satu jenis pohon yang berperan penting dalam rehabilitasi hutan rawa gambut adalah pohon terentang (Campnosperma coriaceum).
“Pohon terentang merupakan jenis pohon asli hutan rawa gambut yang telah lama tumbuh dan beradaptasi secara alami di lahan bergambut. Keberadaan pohon ini terbukti membantu mempercepat pemulihan ekosistem gambut yang rusak, terutama pada areal bekas kebakaran,” ujar Irmanto, Selasa (27/1/2026).
Pohon terentang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap kondisi khas lahan gambut. Terentang mampu tumbuh pada tanah yang bersifat asam, tergenang air secara naik turun, serta memiliki kandungan unsur hara yang rendah.
“Kemampuan ini membuat pohon terentang dapat tumbuh dengan baik di lingkungan yang sulit ditumbuhi oleh banyak jenis tanaman lain. Oleh karena itu, penggunaan pohon terentang dalam rehabilitasi hutan rawa gambut dinilai lebih efektif dibandingkan dengan jenis pohon nonlokal yang berisiko tidak mampu bertahan dalam jangka panjang,” jelasnya.
Hasil analisis PT Rimba Makmur Utama (RMU) melalui bidang Research and Development menunjukkan bahwa pohon terentang memiliki pertumbuhan diameter rata-rata sekitar 0,4 sentimeter per tahun (data internal, 2023).
“Meskipun pertumbuhannya tergolong tidak cepat, laju pertumbuhan yang stabil ini menunjukkan bahwa terentang mampu beradaptasi dengan baik pada kondisi gambut yang sulit. Dalam jangka panjang, pertumbuhan tersebut berpotensi membentuk kembali struktur hutan rawa gambut yang mendekati kondisi alaminya,” tambahnya.
Selain itu, survei pendahuluan yang dilakukan oleh Tim Pembinaan Hutan pada areal terdegradasi dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Tahunan ke-9 (RKT-9) Unit I Sisi Katingan menunjukkan hasil yang cukup baik (PT Rimba Makmur Utama, data internal, 2023).
Pohon terentang ditemukan pada seluruh tingkat pertumbuhan, mulai dari semai, pancang, hingga pohon dewasa. Pada plot pengamatan berukuran 100 x 100 meter, pohon terentang dijumpai secara merata di berbagai fase pertumbuhan.
Temuan ini menunjukkan bahwa proses regenerasi alami masih berlangsung dengan baik meskipun kawasan tersebut sebelumnya mengalami degradasi. Kemampuan regenerasi alami ini menjadi faktor penting dalam keberhasilan rehabilitasi hutan rawa gambut.
“Pemulihan ekosistem tidak hanya bergantung pada tumbuhnya pohon dewasa, tetapi juga pada keberlanjutan regenerasi dari waktu ke waktu. Dengan regenerasi yang terus berlangsung, struktur hutan, fungsi tata air, dan keseimbangan ekosistem gambut dapat pulih secara bertahap dan lebih stabil,” urai Irmanto.
Dalam proses rehabilitasi, pohon terentang juga berperan sebagai tanaman pionir atau perintis. Keberadaannya membantu menciptakan kondisi lingkungan yang lebih baik, seperti meningkatkan kelembapan udara, menurunkan suhu permukaan tanah, serta melindungi anakan tanaman dari paparan sinar matahari langsung.
Kondisi ini sangat mendukung tumbuhnya jenis-jenis pohon lain khas hutan rawa gambut.
Selain membantu pemulihan vegetasi, pohon terentang juga berperan dalam memperbaiki kondisi tanah gambut.
Daun terentang yang gugur akan terurai secara perlahan dan menambah bahan organik di permukaan tanah. Proses ini membantu tanah gambut menyimpan air dengan lebih baik serta menjaga fungsi tata air tetap berjalan.
Daunnya yang lebar juga membantu memperlambat aliran air di permukaan, sehingga mendukung upaya pembasahan kembali gambut. Pohon terentang juga memiliki kelebihan dibandingkan dengan pohon endemik gambut lainnya dari sisi keanekaragaman hayati.
Buah terentang menjadi sumber pakan bagi berbagai satwa liar, seperti orangutan, burung, tupai, dan mamalia kecil lainnya. Tajuk dan kanopi pohon terentang yang lebar juga sering dimanfaatkan orangutan sebagai tempat membuat sarang.
Bagi masyarakat lokal, khususnya Suku Dayak di wilayah Katingan, Kalimantan Tengah, pohon terentang memiliki nilai budaya dan manfaat tradisional. Kayunya yang ringan dan mudah dibentuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan alat musik tradisional, seperti sape (alat musik khas Suku Dayak).
Pada masa lalu, kayu terentang juga digunakan sebagai pelampung rakit karena sifatnya yang ringan dan dapat mengapung di air. Hal ini disampaikan oleh dua staf lokal Pembinaan Hutan, Heriyanto dan Ahmad Rahmadi (Biby).
Sebagai bagian dari komitmen pengelolaan hutan berkelanjutan, PT Rimba Makmur Utama (RMU) melalui bidang Pembinaan Hutan terus mendukung penyediaan benih lokal berkualitas.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah perbanyakan bibit secara generatif dengan mengumpulkan buah terentang matang yang jatuh secara alami di bawah tajuk pohon. Cara ini menghasilkan benih yang sehat dan lebih adaptif terhadap lingkungan setempat.
Upaya rehabilitasi ini sejalan dengan kebijakan nasional. Badan Restorasi Gambut menargetkan restorasi gambut seluas sekitar dua juta hektare di tujuh provinsi prioritas sebagai respons terhadap kerusakan gambut akibat kebakaran besar tahun 2015 (Badan Restorasi Gambut, 2016).
Dalam konteks tersebut, penanaman pohon lokal seperti terentang menjadi bagian penting dari strategi restorasi gambut yang berkelanjutan. Dengan berbagai manfaat ekologis, sosial, dan budaya yang dimilikinya, pohon terentang layak disebut sebagai perisai alami restorasi hutan rawa gambut.
“Keberadaannya membantu memulihkan lingkungan, menjaga habitat satwa, serta mendukung kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem bagi generasi mendatang,” tandas Irmanto.
(Tbk)
Tidak ada komentar