Karhutla Meningkat, Bupati Kotim Instruksikan Camat, Lurah dan Kades Standby di Wilayah

waktu baca 3 menit
Selasa, 11 Agu 2026 05:15 88 Redaksi Kalteng

KOTIM, MEDIASUARAKALTENG.ID – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor menginstruksikan seluruh camat, lurah dan kepala desa (kades) untuk standby di wilayah masing-masing menyusul meningkatnya intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.

Instruksi tersebut disampaikan sebagai langkah memperkuat pencegahan dan penanggulangan karhutla yang mulai berdampak terhadap kondisi lingkungan.

Munculnya kabut asap juga dikhawatirkan mengganggu kualitas udara, kesehatan masyarakat hingga aktivitas sosial dan ekonomi.

“Camat, lurah dan kepala desa, saya minta standby di wilayah masing-masing. Lakukan patroli dan sosialisasi kepada masyarakat, terutama di daerah yang rawan terjadi karhutla,” kata Halikinnor, Selasa (11/8/2026).

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Kotim telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan yang berlaku sejak 30 Juli hingga 26 Agustus 2026.

Dalam kondisi tersebut, Halikinnor meminta jajaran pemerintah di tingkat kecamatan dan desa/kelurahan meningkatkan pemantauan serta tidak hanya menunggu laporan ketika kebakaran sudah terjadi.

Camat juga diminta berkoordinasi dengan seluruh kepala desa agar upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih aktif, termasuk patroli dan sosialisasi kepada masyarakat.

“Camat saya minta berkoordinasi dengan seluruh kades, agar bisa lebih aktif dalam mencegah hingga menanggulangi karhutla,” tegasnya.

Menurut Halikinnor, keberadaan aparatur pemerintah di wilayah menjadi bagian penting dalam mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.

Apabila ditemukan titik api, penanganan harus segera dilakukan agar api tidak berkembang dan meluas.

“Kalau ada titik api segera ditangani. Jangan sampai api kecil dibiarkan kemudian membesar. Apalagi jika kebakaran terjadi di lahan gambut, itu akan sangat sulit untuk dipadamkan,” tuturnya.

Selain memperkuat pemantauan, pemerintah wilayah diminta meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Masyarakat diingatkan untuk tidak membakar lahan maupun sampah secara sembarangan.

“Jangan sampai masyarakat melakukan pembakaran lahan. Kita harus bersama-sama mencegah agar karhutla tidak semakin meluas,” ujarnya.

Halikinnor menilai kondisi cuaca yang kering turut meningkatkan risiko muncul dan meluasnya kebakaran.

Karena itu, penanggulangan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan personel Satgas Karhutla, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh unsur pemerintah dan masyarakat.

Terlebih, dampak karhutla mulai dirasakan dengan munculnya kabut asap di sejumlah wilayah.

Kondisi tersebut tidak hanya berpotensi mengganggu kesehatan dan kualitas udara, tetapi juga dapat berdampak terhadap transportasi, pendidikan dan aktivitas perekonomian.

“Ini bukan hanya persoalan kebakaran, tetapi juga dampaknya terhadap masyarakat. Kalau sudah muncul kabut asap pekat, dampaknya akan lebih luas, tidak hanya terhadap lingkungan dan kesehatan, tapi juga transportasi, pendidikan hingga perekonomian daerah secara umum,” jelasnya.

Dengan status tanggap darurat yang masih berlangsung, Halikinnor kembali menegaskan agar seluruh jajaran meningkatkan kewaspadaan dan tidak menganggap remeh kemunculan titik api.

“Jangan menunggu sampai besar. Kalau ada indikasi kebakaran, segera lakukan penanganan. Semua harus bergerak bersama,” tegas Halikinnor.
(Tbk)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA