Reses DPRD Kalteng, Warga Keluhkan Karhutla, Air Bersih hingga Kebutuhan Puskesmas Baru

waktu baca 4 menit
Rabu, 26 Agu 2026 04:31 74 Redaksi Kalteng

KOTIM, MEDIASUARAKALTENG.ID – Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) daerah pemilihan (Dapil) Kalteng II, Sutik, dari Partai Gerindra, melaksanakan reses perseorangan di RT 67/RW 04, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Selasa (25/8/2026).

Dalam kegiatan reses ini ia didampingi oleh Cindy Maulidtika Yunifa, anggota DPRD Kotim.

Dalam kegiatan tersebut, berbagai aspirasi masyarakat disampaikan, mulai dari persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sulitnya mendapatkan air bersih selama musim kemarau, kondisi jalan, hingga kebutuhan pembangunan fasilitas kesehatan baru.

Sutik mengatakan, dirinya telah mengunjungi enam lokasi dalam rangka reses. Dari sejumlah lokasi tersebut, persoalan yang paling banyak dikeluhkan masyarakat berkaitan dengan dampak musim kemarau.

“Untuk saat ini saya sudah mengunjungi enam tempat reses. Rata-rata keluhannya karena musim kemarau, yakni karhutla. Ada juga di Desa Telaga Baru yang mengeluhkan masalah air karena banyak sumber mata air yang mengering,” kata Sutik.

Ia berharap pemerintah daerah dapat segera membantu masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Menurutnya, persoalan tersebut perlu ditangani agar tidak berkembang menjadi masalah sosial di tengah masyarakat.

“Mudah-mudahan pemerintah daerah setempat bisa menolong. Jangan sampai masyarakat ribut gara-gara kekurangan air,” ujarnya.

Selain persoalan air bersih dan karhutla, Sutik juga menyatakan dukungannya terhadap rencana pembangunan Puskesmas baru di Kecamatan MBK.

Menurutnya, pembangunan fasilitas kesehatan tambahan diperlukan mengingat wilayah pelayanan yang cukup luas dan jarak antarwilayah yang relatif jauh.

“Saya sepakat dan sangat mendukung program untuk Kecamatan Mentawa Baru Ketapang ini ada tambahan pembangunan Puskesmas karena memang agak jauh jaraknya. Nanti saya juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan bagaimana caranya agar pembangunan Puskesmas baru di Kecamatan MBK ini terealisasi,” jelasnya.

Sutik mengakui, kondisi anggaran saat ini masih menghadapi berbagai efisiensi, termasuk anggaran yang berkaitan dengan dana desa. Namun, ia berharap pembangunan di daerah tetap dapat berjalan secara bertahap.

Ia juga menyebut persoalan jalan dan air bersih menjadi aspirasi yang cukup dominan disampaikan masyarakat selama reses.

“Rata-rata masyarakat yang saya kunjungi ini keluhannya adalah jalan. Kemudian banyak juga yang mengeluhkan air bersih susah didapat karena sumurnya juga kering,” ungkapnya.

Terkait kondisi kemarau yang meningkatkan risiko karhutla, Sutik mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah.

“Karena sekarang rawan kebakaran, jangan sampai membakar lahan, kemudian jangan membakar sampah. Kita harus benar-benar menjaganya bersama-sama. Kalau keluar rumah, tolong peralatan listrik dicabut,” imbaunya.

Sementara itu, Camat Mentawa Baru Ketapang, Irfansyah, mengatakan kebutuhan pembangunan Puskesmas baru cukup mendesak. Pasalnya, Puskesmas Ketapang II saat ini melayani masyarakat dalam jumlah yang cukup besar.

“Pelayanan di Puskesmas Ketapang II itu hampir mencapai 61.000 jiwa, terdiri dari enam desa dan dua kelurahan. Tentunya dengan pelayanan tersebut banyak masyarakat yang sedikit mengeluhkan karena setiap hari antre dan tenaga medisnya juga tidak sesuai dengan kapasitas jumlah penduduk,” kata Irfansyah.

Menurutnya, pemerintah kecamatan mengusulkan pembangunan Puskesmas Ketapang III yang nantinya dapat memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah selatan.

“Karena itu kami menginginkan pembangunan Puskesmas Ketapang III yang melayani enam desa. Titik dan tanahnya kemarin sudah ada, yaitu di Desa Eka Bahurui, di samping Pos Pemadam Kebakaran. Puskesmas ini untuk melayani wilayah selatan,” jelasnya.

Selain pelayanan kesehatan, Irfansyah juga mengungkapkan kondisi karhutla yang masih menjadi perhatian serius di wilayah Kecamatan MBK. Hingga saat ini, tercatat sekitar 80 titik kebakaran yang terjadi di wilayah tersebut.

“Untuk titik kebakaran sampai saat ini sudah ada 80 titik, baik itu yang sangat parah, di antaranya di Pelangsian dan baru-baru ini di Desa Telaga Baru,” ungkapnya.

Menurut Irfansyah, salah satu kendala utama dalam penanganan karhutla saat ini adalah sulitnya mendapatkan sumber air.

Kondisi sungai yang mulai mengering membuat petugas pemadam harus mencari sumber air yang lebih jauh.

“Kendala kita adalah penyediaan sumber mata air yang sangat sulit. Sungai sudah kosong dan armada yang disiapkan pemerintah seperti suplai air untuk mencapai titik-titik terjauh tadi aksesnya susah dan terlalu lama kalau ke sana,” ujarnya.

Ia berharap musim kemarau segera berakhir sehingga ancaman karhutla dan kesulitan air yang dialami masyarakat dapat berkurang.

“Semoga kemarau ini cepat berlalu, jangan sampai berlama-lama. Insyaallah kita selalu standby memadamkan api dan menjaga lingkungan,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama Ketua RT 67 RW 04 Surono, menyambut baik kegiatan reses perseorangan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) daerah pemilihan (Dapil) Kalteng II ini.

“Banyak aspirasi yang disampaikan warga kami kepada Pa Sutik, semoga aspirasi kami ini bisa didengar oleh pemerintah provinsi Kalimantan Tengah,” ujarnya.
(Cath)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA