BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau 2026 Terjadi pada Agustus, Risiko Karhutla Meningkat

waktu baca 2 menit
Rabu, 10 Jun 2026 06:53 11 Redaksi Kalteng

KOTIM, MEDIASUARAKALTENG.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), seiring menguatnya fenomena El Nino yang diperkirakan mulai aktif pada pertengahan tahun ini.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan hasil pemutakhiran prediksi musim kemarau menunjukkan puncak kemarau akan berlangsung secara bertahap mulai Juli hingga September 2026.

“Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami puncak musim kemarau pada bulan Agustus, yaitu sebanyak 369 zona musim atau 48,84 persen luas daratan wilayah Indonesia,” ujar Sena dalam konferensi pers pemutakhiran prediksi musim kemarau 2026, Rabu (10/6/2026).

Berdasarkan data BMKG, sebanyak 83 zona musim atau 12,26 persen wilayah Indonesia diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Juli 2026.

Sementara itu, 169 zona musim atau 25,41 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak kemarau pada September 2026.

Wilayah yang diperkirakan memasuki puncak kemarau pada Agustus meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara.

BMKG menilai kondisi musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering akibat pengaruh fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027.

Tercatat sebanyak 482 zona musim atau 56,18 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau dengan sifat bawah normal atau lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.

Selain itu, sebanyak 437 zona musim atau 48,77 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya.

“Curah hujan yang turun selama periode musim kemarau 2026 diprediksi umumnya berkategori bawah normal atau lebih kering dari kondisi yang pada umumnya,” kata Sena.

BMKG mengingatkan bahwa kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius bagi berbagai sektor, mulai dari pertanian, sumber daya air, energi, lingkungan hingga kebencanaan.

Pemerintah daerah diminta memperkuat langkah mitigasi sejak dini guna mengantisipasi dampak kekeringan yang diperkirakan meningkat saat puncak musim kemarau berlangsung.

Untuk sektor pertanian, BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam serta penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering.

Sementara itu, sektor kehutanan dan kebencanaan diimbau meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan yang biasanya meningkat ketika curah hujan menurun secara signifikan.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi sebagai dasar dalam mengambil langkah antisipatif menghadapi musim kemarau 2026.
(Tbk)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA